Mengetuk Pintu Ikhlas di Sekber Cikupa: Catatan Menjelang Hajat PWI Pandeglang

Sabtu, 22 Agustus 2026 - 11:49 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh: H. Agus Sanjadirdja

PANDEGLANG, LENSABANSEL.COM — Ada harmoni yang tidak biasa di Kampung Cikupa belakangan ini. Di bawah atap Sekretariat Bersama (Sekber) PWI & SMSI Pandeglang, deru gergaji dan ketukan palu para petukang berpadu dengan riuh rendah diskusi para kuli tinta. Sebuah pemandangan kontras yang melahirkan romansa tersendiri: para tukang berpacu merampungkan renovasi gedung, sementara para wartawan berkejaran dengan waktu demi menyukseskan Konferensi PWI Pandeglang, enam hari ke depan.

Tepat pada Jumat, 28 Agustus 2026 nanti, hajat tiga tahunan itu akan digelar. Sebagai orang yang pernah menakhodai PWI Provinsi Banten, radar batin saya tidak bisa lepas dari dinamika di Cikupa. Menilai sepak terjang kawan-kawan panitia di bawah komando Openk, Acuy, dan Johan, rasanya dua jempol saja tidak cukup untuk menggambarkan ruang khidmat yang mereka bangun.
Mereka adalah potret nyata dari sebuah ketulusan. Bekerja tanpa upah, bergerak tanpa keluhan, dan melompati keterbatasan fasilitas dengan modal yang paling mahal di era modern ini: keikhlasan dan kerja sepenuh hati.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Di balik layar kesibukan itu, ada sosok Fahdi Khalid atau yang lebih akrab disapa Akew. Ia adalah figur yang dipercaya oleh PWI Provinsi Banten untuk mengurai benang kusut di tubuh organisasi PWI Pandeglang yang sempat vakum selama lebih dari dua tahun. Mengemban mandat sebagai Plt. Ketua PWI Pandeglang sekaligus menjabat Sekretaris Jenderal PWI Banten, Akew dengan sigap bergerak cepat membentuk kepanitiaan konferensi. “Kita berharap bisa cepat menyelenggarakan pemilihan ketua lewat konferensi. Akhir Agustus tahun ini, harus sudah terpilih ketua dan unsur pengurus PWI Pandeglang yang baru,” tegas Akew penuh optimisme.

Gayung pun bersambut, denyut kompetisi mulai terasa hangat di meja panitia. Hingga saat ini, tercatat sudah ada tiga kandidat yang siap bertarung memperebutkan kursi ketua, yaitu Asep Mujahidin, Agus Lani, dan H. Yanadi. Katup persaingan kian ketat mengingat gerbang pendaftaran calon akan resmi ditutup pada hari Minggu, 23 Agustus 2026.

Sekber Cikupa pada awalnya hanyalah bangunan sederhana yang setengah layak pakai. Namun, di sanalah kebersamaan wartawan Pandeglang berakar. Atas kebaikan Bupati Pandeglang Hj. Dewi Setiani, tempat itu diserahkan sebagai rumah bernaung. Kini, melihat bangunan itu direhab total oleh pemerintah daerah, ada rasa haru yang menyeruak. Bupati Dewi ingin para jurnalis memiliki ruang kerja yang nyaman demi menjaga marwah informasi di Pandeglang.

Mungkin karena aroma keikhlasan yang pekat dari dalam Sekber, simpati dan dukungan mengalir deras bagai air bah. Di tingkat provinsi, Gubernur Banten Andra Soni dan Wakil Gubernur Dimyati ikut mengirimkan doa terbaiknya. Sementara di tingkat tapak, mulai dari kepala desa, camat, kepala OPD, hingga aparat penegak hukum serempak memberikan ucapan selamat. Langkah awal panitia yang patut diacungi jempol.

Kehangatan humanis di Sekber Cikupa kian lengkap dengan hadirnya kejutan-kejutan kecil. Tanpa sekat protokoler, Bupati Dewi yang didampingi Kadiskomsantik H. Fuji mendadak singgah. Sambil melihat progres bangunan, terselip kalimat sejuk dari sang Bupati, “Saya ingin memberi yang terbaik, dan gedung ini nantinya akan digunakan untuk kerja jurnalistik teman-teman.”

Seolah tidak mau ketinggalan momentum hangat itu, sehari setelahnya, Ketua DPRD Pandeglang H. Tb. Agus Khotibul Umam juga “nyelonong” hadir tanpa pemberitahuan.
Lalu, mengalirlah obrolan gayeng di antara kepulan asap rokok dan cangkir-cangkir kopi pahit. Tidak ada batas antara jurnalis senior, junior, panitia, maupun sang ketua parlemen. Diskusi mengalir jenaka namun dalam, menguliti dinamika berita mulai dari pujian hingga kritik tajam yang semuanya dibilas dengan gelak tawa lepas. Dari cangkir kopi itulah lahir sebuah komitmen sakral: merawat sinergi antara pers, parlemen, dan eksekutif tanpa sedikit pun mengorbankan independensi dan tupoksi masing-masing.

Menjelang senja hari-hari persiapan ini, sosok Tb. Nandar Suptandar juga ikut merapat. Bagi wartawan Pandeglang, pria yang kini menjabat sebagai Asisten Daerah (Asda) 3 ini adalah kawan lama. Rekam jejaknya sebagai mantan Kabag Humas dan Kadiskomsantik membuatnya selalu luwes membaur. Kehadirannya seolah menegaskan, jabatan boleh mendaki tinggi, namun jabat tangan dengan kawan lama tak boleh merenggang.

Dari balik meja kopi pahit di Cikupa, kita belajar bahwa Konferensi PWI Pandeglang periode 2026–2029 bukan sekadar ritual politik organisasi. Ia adalah panggung humanis tentang bagaimana sebuah keikhlasan mampu merajut harmoni, mengetuk pintu sinergi, dan menjaga martabat profesi pers tetap membumi.
Selamat dan sukses Konferensi PWI Kabupaten Pandeglang Tahun 2026. Semoga dilancarkan hingga hari H. Aamiin.***(Red.)

(Penulis adalah Tokoh Pers Banten yang juga mantan Ketua PWI Provinsi Banten)

Berita Terkait

Kisah Emak Mumu di Pandeglang: Bertahan dengan ‘Kebijakan Hati’ di Tengah Badai Inflasi
Di Balik Megahnya Gebrag Ngadu Bedug 2026: “Hidup dari Swadaya Seniman Saat Pemerintah Berjarak!”

Komentar

Berita Terkait

Sabtu, 22 Agustus 2026 - 11:49 WIB

Mengetuk Pintu Ikhlas di Sekber Cikupa: Catatan Menjelang Hajat PWI Pandeglang

Selasa, 23 Juni 2026 - 20:34 WIB

Kisah Emak Mumu di Pandeglang: Bertahan dengan ‘Kebijakan Hati’ di Tengah Badai Inflasi

Sabtu, 20 Juni 2026 - 07:25 WIB

Di Balik Megahnya Gebrag Ngadu Bedug 2026: “Hidup dari Swadaya Seniman Saat Pemerintah Berjarak!”

Berita Terbaru